Showing posts with label seni menggerakkan. Show all posts

Motivasi Karyawan

0 comments
Kinerja karyawan tidak terlepas dari motivasi para pelakunya sendiri. Motivasi mendorong karyawan untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan dengan maksud agar tujuan tercapai, baik tujuan individu maupun tujuan organisasi. Motivasi yang ada dalam setiap individu berbeda antara yang satu dan yang lain.


Misi yang dimiliki oleh Perusahaan tentu saja tidak dapat terwujud tanpa peran karyawan yang dimilikinya. Disini peran motivasi karyawan merupakan hal yang sangat sentral untuk dapat mewujudkan misi organisasi. Motivasi yang ada dalam setiap orang adalah tidak sama, berbeda antara yang satu dan yang lain. Untuk itu diperlukan pengetahuan mengenai pengertian, dan hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi, sehingga menimbulkan dorongan bagi mereka untuk berbuat atau berperilaku sesuai apa yang dikehendaki individu lain/organisasi.

Robbins (2002) mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai tujuan. Ada tiga kata kunci dalam motivasi menurut Robbins, yaitu intensitas, tujuan dan ketekunan. Intensitas menyangkut seberapa besarnya seseorang berusaha. Namun intensitas yang tinggi tidak akan membawa hasil yang diinginkan jika tidak diarahkan ke suatu tujuan yang menguntungkan organisasi. Ketekunan berkaitan dengan berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya. Seseorang yang termotivasi akan bertahan cukup lama pada pekerjaannya untuk mencapai tujuan.Motivasi mendorong karyawan untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan dengan maksud agar tujuan tercapai, baik tujuan individu maupun tujuan organisasi.

Maslow (1970) mengelompokan motivasi mengacu pada lima kebutuhan pokok yang disusun secara hirarkis. Tata lima tingkatan motivasi secara secara hierarkis ini adalah :
1. Kebutuhan yang bersifat fisiologis (lahiriyah). Manifestasi kebutuhan ini
terlihat dalam tiga hal pokok, sandang, pangan dan papan. Bagi karyawan, kebutuhan akan gaji, uang lembur, perangsang, hadiah-hadiah dan fasilitas lainnya seperti rumah, kendaraan dll. Menjadi motif dasar dari seseorang mau bekerja, menjadi efektif dan dapat memberikan produktivitas yang tinggi bagi organisasi. Apabila kebutuhan ini belum terpenuhi maka kebutuhan lain tidak akan memotivasi manusia.
2. Kebutuhan keamanan dan keselamatan kerja (Safety Needs). Kebutuhan ini
mengarah kepada rasa keamanan, ketentraman dan jaminan seseorang dalam kedudukannya, jabatan-nya, wewenangnya dan tanggung jawabnya sebagai karyawan. Dia dapat bekerja dengan antusias dan penuh produktivitas bila dirasakan adanya jaminan formal atas kedudukan dan wewenangnya.
3. Kebutuhan sosial (Social Needs). Kebutuhan akan kasih sayang dan
bersahabat (kerjasama) dalam kelompok kerja atau antar kelompok. Kebutuhan akan diikutsertakan, mening-katkan relasi dengan pihak-pihak yang diperlukan dan tumbuhnya rasa kebersamaan termasuk adanya sense of belonging dalam organisasi.
4. Kebutuhan akan prestasi dan penghargaan (Esteem Needs). Kebutuhan akan
kedudukan dan promosi dibidang kepegawaian. Kebutuhan akan simbul-simbul dalam statusnya seseorang serta prestise yang ditampilkannya.
5. Kebutuhan mempertinggi kapisitas kerja (Self actualization). Setiap orang
ingin mengembangkan kapasitas kerjanya dengan baik. Hal ini merupakan kebutuhan untuk mewujudkan segala kemampuan dan seringkali nampak pada hal-hal yang sesuai untuk mencapai citra dan cita diri seseorang. Dalam motivasi kerja pada tingkat ini diperlukan kemampuan manajemen untuk dapat mensinkronisasikan antara cita diri dan cita organisasi untuk dapat melahirkan hasil produktivitas organisasi yang lebih tinggi.


Teori Maslow tentang motivasi secara mutlak menunjukkan perwujudan diri sebagai pemenuhan (pemuasan) kebutuhan yang bercirikan pertumbuhan dan pengembangan individu. Perilaku yang ditimbulkannya dapat dimotivasikan oleh manajer dan diarahkan sebagai subjek-subjek yang berperan. Dorongan yang dirangsang ataupun tidak, harus tumbuh sebagai subjek yang memenuhi kebutuhannya masing-masing yang harus dicapainya dan sekaligus selaku subjek yang mencapai hasil untuk sasaran-sasaran organisasi.

Herzberg (1990) mengemukakan teori motivasi berdasar teori dua faktor yaitu faktor higiene dan motivator. Dia membagi kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat tinggi (prestise dan aktualisasi diri) serta mengemukakan bahwa cara terbaik untuk memotivasi individu adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat tingginya. Teori Herzberg melihat ada dua faktor yang mendorong karyawan termotivasi yaitu faktor intrinsik yaitu daya dorong yang timbul dari dalam diri masing-masing orang, dan faktor ekstrinsik yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang, terutama dari organisasi tempatnya bekerja.

Karyawan yang terdorong secara intrinsik akan menyenangi pekerjaan yang memungkinnya menggunakan kreaktivitas dan inovasinya, bekerja dengan tingkat otonomi yang tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat. Kepuasan disini tidak terutama dikaitkan dengan perolehan hal-hal yang bersifat materi. Sebaliknya, mereka yang lebih terdorong oleh faktor-faktor ekstrinsik cenderung melihat kepada apa yang diberikan oleh organisasi kepada mereka dan kinerjanya diarahkan kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya dari organisasi (Sondang, 2002).

Menurut hasil penelitian Herzberg ada tiga hal penting yang harus diperhatikan dalam memotivasi bawahan (Hasibuan, 1990) yaitu :
1. Hal-hal yang mendorong karyawan adalah pekerjaan yang menantang dan
yang mencakup perasaan berprestasi,bertanggung jawab, kemajuan, dapat menikmati pekerjaan itu sendiri dan adanya pengakuan atas semua itu.
2. Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama pada faktor yang
bersifat embel-embel saja dalam pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat dan lain-lain sejenisnya.
3. Karyawan akan kecewa bila peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan
menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.

Herzberg menyatakan bahwa orang dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor yang merupakan kebutuhan, yaitu :
1. Maintenance Factors. Adalah faktor-faktor pemeliharaan yang berhubungan
dengan hakikat manusia yang ingin memperoleh ketentraman badaniah. Kebutuhan kesehatan ini merupakan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, karena kebutuhan ini akan kembali pada titik nol setelah dipenuhi.
2. Motivation Factors. Adalah faktor motivator yang menyangkut kebutuhan
psikologis seseorang yaitu perasaan sempurna dalam melakukan pekerjaan. Factor motivasi ini berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang berkaitan langsung dengan pekerjaan.

Penelitian Edlund dan Nilsson (2007) yang dilakukan pada para karyawan dari 2 (dua) perusahaan swasta di Swedia, bertujuan untuk meneliti faktor-faktor yang berperan penting dalam mengelola motivasi kerja karyawan. Faktor-faktor yang diteliti adalah faktor-faktor motivasi yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik, jenis kelamin (gender), dan umur (age) para karyawan.

Berdasarkan hasil analisis statistik, yang diperdalam dengan analisis kualitatif, penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa:
1. Mengelola motivasi karyawan merupakan tugas yang menduduki peringkat
utama dari daftar tugas dan tanggungjawab para manajer perusahaan.
2. Dalam 5 tahun terakhir ini, terjadi pergeseran bahwa dalam bekerja karyawan
cenderung lebih kuat didorong oleh faktor-faktor motivasi intrinsik (antara lain merasa dibutuhkan dan berarti dalam bekerja, aktualisasi kompetensi yang dimiliki, memiliki kebebasan memilih alternatif, dan mengetahui kemajuan dan prestasi pekerjaannya), dimana sebelumnya peranan faktor-faktor ekstrinsik lebih dominan (gaji, insentif, dan lain-lain).
3. Tidak terdapat perbedaan yang berarti dalam mengelola motivasi karyawan
karena faktor perbedaan jenis kelamin (gender) dan faktor umur (age).

Mampu menjadi motivator yang baik merupakan sebuah hal mutlak yang harus dimiliki seorang manager atau pimpinan dalam organisasi. Motivasi akan memberikan inspirasi, dorongan, semangat kerja bagi karyawan sehingga terjalin hubungan kerja yang baik antara karyawan dan pimpinan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara maksimal. Bagitu juga motivasi berkaitan erat dengan usaha, kepuasan pekerja dan performance pekerjaan (Gomes 1995).

Agar tercapai keberhasilan seorang manager atau pimpinan dalam memotivasi bawahannya, sebaiknya ada suatu lingkungan dimana tujuan-tujuan motivasi tersedia tujuan-tujuan motivasi tersebut antara lain:
- Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
- Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
- Meningkatkan produktivitas karyawan
- Mempertahankan loyalitas dan kesetabilan karyawan perusahaan
- Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan
- Mengefektifkan pengadaan karyawan
- Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
- Meningkatkan kreatifitas dan partisipasi karyawan
- Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
- Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya
- Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku

Peran pemimpin atau manager tidak akan berjalan maksimal apabila seorang pemimpin atau manager tersebut tidak memiliki kemampuan dalam memotivasi bawahan. Dalam artibawahan dapat patuh mengikuti apa kata sang pemimpin, hanya jika sang pemimpin mampu mendorong atau memotivasi mereka sehingga mereka dapat terdorong untuk melakukan suatu tindakan yang terarah pada tujuan bersama, yaitu tujuan organisasi.

Magna Transforma sebagai sebuah lembaga konsultan manajemen tentunya sangat menyadari pentingnya hal ini. Melalui pelatihan “Leadership For Manager” diyakini efektif dalam memberi banyak pembekalan berharga kepada para manager atau pemimpin organisasi termasuk didalamnya mengenai cara mendorong, ,mengarahkan, serta memotivasi bawahan.

Read More »

Coaching and Counseling

0 comments
Ada kalanya karyawan tidak bekerja tidak sesuai yang kita harapkan tetapi ada juga yang sebaliknya, karyawan bekerja dengan luar biasa baik. Atasan yang baik adalah atasan yang bisa mengatasi kedua hal tersebut. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan melakukan coaching dan counseling. Kita akan membahas secara terpisah mengenai coaching dan counseling.

Coaching pada prinsipnya merupakan proses yang sistematis dengan tujuan untuk merubah perilaku lama (perilaku negative, tidak baik) menjadi perilaku yang lebih baik untuk mencapai sebuah tujuan. Ada 3 komponen dalam melakukan coaching yaitu ada coach (orang yang akan melakukan coaching), coachee (orang yang akan diberikan coaching) dan context (situasi tertentu). Kenapa atasan perlu melakukan coaching? Secara garis besar bisa dibagi menjadi 4 alasan. Pertama, ada perilaku-perilaku lama yang tidak diharapkan muncul dalam diri seseorang. Kedua, perkembangan bisnis yang luar biasa cepat, jadi kalau tidak melakukan coaching kepada anak buah maka perusahaan akan ketinggalan. Ketiga, diperlukan perilaku-perilaku baru untuk menghadapi tantangan masa sekarang. Keempat, perilaku baru tersebut perlu disejajarkan (aligned) untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Sekarang ini sangat banyak sekali teori atau pendekatan tentang bagaimana melakukan coaching yang baik. Banyak juga atasan yang mengakui kalau coaching memang penting untuk dilakukan. Kalau begitu kenapa masih belum berhasil dalam melakukan coaching? Kenapa perilaku negative masih terjadi di team kerja? Fakta yang terjadi di lapangan adalah banyak coach yang merasa sudah hebat dan dalam melakukan coaching berada dalam suasana yang mengintimidasi. Atasan juga sangat sering melakukan coaching tidak berdasarkan data, tetapi berdasarkan insting saja. Fakta lain yang tejadi adalah tidak melakukan follow up setelah dilakukan coaching sehingga kesepakatan yang telah dibuat dilupakan begitu saja. Itu adalah beberapa fakta kenapa meskipun sudah dilakukan coaching tetapi belum terjadi perubahan terhadap anak buah.

Perbedaan mendasar antara coaching dengan counseling adalah coaching biasanya membahas masalah yang berkaitan langsung dengan prestasi atau hasil kerja. Sementara counseling biasanya membahas masalah yang berkaitan dengan masalah pribadi, motivasi kerja.

Salah satu metode counseling yang terkenal adalah metode counseling Satir. Satir sendiri sebenarnya adalah nama orang yaitu Virginia Satir. Beliau merupakan family therapist yang salah satu pendekatannya adalah memberdayakan diri sendiri atau orang lain untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Keyakinan kesembuhan menurut Satir adalah yang menjadi masalah adalah bukan masalah itu sendiri, yang menjadi masalah adalah cara mengatasi masalah tersebut. Setiap orang memiliki sumber kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk mengatasi masalah jadi focus dari terapi itu adalah orang tersebut.

Tujuan dari counseling Satir adalah membantu seseorang lebih bertanggung jawab dalam mengambil pilihan-pilihan. Ada 12 prinsip dasar dalam melakukan counseling Satir, yaitu (John Banmen, 1999):
1. Perubahan adalah hal yang mungkin.
2. Kita semua memiliki sumber internal yang kita perlukan untuk mengatasi
masalah dengan baik.
3. Kita memiliki pilihan-pilihan, terutama bahwa kita dapat merespons stress,
bukannya bereaksi terhadap situasi.
4. Pengharapan adalah komponen atau unsur penting bagi adanya suatu
perubahan.
5. Suatu tujuan utama konseling adalah untuk menjadi seseorang yang mampu
membuat pilihan.
6. Yang menjadi masalah bukan masalahnya, yang menjadi masalah yang
sebenarnya adalah cara mengatasi masalah.
7. Kebanyakan orang memilih keadaan yang sudah dikenal daripada ketidak-
nyamanan yang diakibatkan perubahan, terutama selama masa stres terjadi.
8. Perasaan adalah milik kita; kita bertanggung jawab atasnya.
9. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, tapi pengaruhnya pada kita bisa kita
ubah.
10. Menghargai dan menerima masa lalu meningkatkan kemampuan kita untuk
menghadapi masa depan.
11. Proses adalah jalan menuju perubahan. Isi/cerita (content) membentuk
konteks di mana perubahan bisa terjadi.
12. Cara menangani masalah adalah manifestasi dari tingkat gambar diri.
Semakin tinggi gambar diri seseorang, semakin baik cara menangani masalahnya.

Jika Anda ingin melakukan coaching dan counseling kepada anak buah dengan pendekatan apa pun, langkah-langkah yang baik adalah dengan melakukan IDEAL, yang merupakan singkatan dari:
•    Introduksi dan identifikasi
Berikanlah sambutan terhangat yang bisa Anda berikan tetapi jangan terlihat seperti memberikan sambutan “pura-pura”. Sambutan ini seringkali dilupakan oleh atasan, seringkali langsung masuk kepada masalah. Ingatlan bahwa dengan atasan memanggil anak buah, pasti anak buah sudah mempunyai persepsi masing-masing. Gunakanlah bahasa tubuh yang positif dalam berkomunikasi dan perhatikanlah bahasa non verbal yang digunakan oleh anak buah. Berikan penjelasan yang detail tentang alasan dan tujuan pertemuan supaya anak buah merasa nyaman dan tenang.

•    Definisikan masalah
Salah satu tujuan dilakukan coaching counseling adalah karena didasari adanya masalah. Seringkali sesuatu yang menjadi masalah bagi atasan, itu bukan menjadi masalah bagi anak buah. Kalau hal ini sampai terjadi maka proses coaching counseling tidak bisa dilaksanakan. Kenapa? Karena ada satu pihak yang merasa tidak terjadinya sebuah masalah. Harus ada kesepakatan kedua belah pihak terlebih dahulu bahwa memang ada permasalahan yang sedang terjadi. Dalam fase ini yang perlu diperhatikan adalah mendengarkan secara aktif. Gunakan semua panca indera kita supaya kita benar-benar bisa mendapatkan inti dari permasalahan yang terjadi.

•    Eksplorasi alternative pemecahan masalah
Setelah disepakatinya ada permasalahan, maka langkah selanjutnya adalah mencari alternative pemecahan masalah. Dalam tahap ini, tugas atasan lebih pasif dibandingkan anak buah. Solusi pemecahan masalah sebisa mungkin berasal dari anak buah.

•    Aksi yang disepakati untuk dilaksanakan
Langkah selanjutnya setelah ada alternative pemecahan masalah adalah tentukan aksi yang disepakati, kalau perlu tanyakan dengan detail kapan yang bersangkutan akan melakukan aksi tersebut.

•    Lihat kembali setelah pelaksanaan (follow up)
Sebisa mungkin anak buah yang melakukan follow up bukan Anda sebagai pemimpin. Hal ini dilakukan untuk melihat seberapa besar komitmen anak buah dalam melakukan tindakan perbaikan yang telah disepakati. Anda boleh menawarkan dukungan seperlunya.

Melakukan coaching dan counseling seharusnya masuk ke dalam job description seorang pemimpin. Dengan demikian pemimpin mempunyai rasa tanggung jawab dalam mengembangkan anak buah. Melakukan coaching dan counseling juga bukan dilakukan hanya untuk formalitas dan harus dilakukan secara berkala. Coaching dan counseling dilakukan pada saat performance anak buah baik dan buruk, hanya caranya yang berbeda. Prinsip yang dilakukan pada saat performance anak buah sedang baik adalah lakukan saat itu juga, contohnya Anda melihat bahwa anak buah melakukan pekerjaan yang baik dalam melakukan handling complain sehingga customer menjadi puas, maka berikan pujian saat itu juga. Berikan pujian bahwa hal yang baru saja dilakukan adalah hal yang baik dan perlu dilakukan peningkatan terus menerus. Pujian atau acknowledgement yang diberikan diharapkan bisa ditiru oleh orang lain dan dilakukan secara berulang. Berikan pujian yang tulus, anak buah pasti bisa merasakan jika Anda memberikan pujian yang hanya basa basi

Lain halnya jika performance anak buah sedang buruk, sebisa mungkin jangan menegur langsung apalagi di depan khalayak ramai. Jika hal itu dilakukan maka kepercayaan diri anak buah akan hancur dan ada kemungkinan anak buah akan defensive pada kesalahan yang dilakukan. Prinsip utama memberikan coaching dan counseling pada tahap ini adalah make it private, make it positive. Maksud dari make it private adalah ajak anak buah ke tempat yang tertutup dimana Anda bisa berbicara dengan leluasa. Maksud dari make it positive adalah apa pun yang keluar dari mulut Anda sebisa mungkin adalah hal yang positif meskipun yang mau Anda sampaikan adalah hal yang negative. Cara menyampaikan hal negative menjadi positif merupakan tantangan tersendiri. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan teknik re-framing. Maksud dari teknik ini adalah melihat sebuah peristiwa yang sama dengan cara pandang yang berbeda. Sampaikanlah hal negative dengan cara yang tenang, tidak menghakimi, berikan hal yang positif terlebih dahulu, arahkan masukan kepada perubahan yang bisa diterima oleh anak buah dan sediakan waktu khusus untuk mendengarkan anak buah.

Dalam memberikan coaching dan counseling selalu berbicaralah berdasarkan data, contohnya jika Anda ingin memberikan coaching dikarenakan anak buah sering terlambat masuk kerja, mintalah data-data pada tanggal berapa saja dan dalam satu bulan total berapa menit anak buah terlambat. Setelah Anda mendapatkan data-data tersebut, sampaikan data-data tersebut kepada anak buah. Jangan berdasarkan perkiraan semata dalam melakukan coaching dan counseling. Hal lain yang perlu dihindari dalam melakukan coaching dan counseling adalah memberikan masukan dengan tidak serius, menjadi pemimpin yang menghakimi dan memberikan masukan yang tidak masuk akal. Jika Anda sudah rutin sudah melakukan coaching dan counseling, tetapi masih terjadi perilaku negative di kantor, ada dua hal yang bisa dilakukan. Pertama, lakukan introspeksi diri, apakah Anda sebagai atasan sudah memberikan contoh perilaku yang positive di kantor. Jika selama ini Anda tidak pernah menjadi role model yang baik, jangan pernah berharap anak buah akan memberikan performa yang baik. Kedua, Anda bisa berkonsultasi dengan HRD untuk dilakukan mutasi, rotasi atau diberikan pelatihan.

Salah satu syarat pemimpin yang baik adalah pemimpin yang rutin melakukan coaching dan counseling. Lakukan coaching dan counseling dengan tulus dan ingatlah jika anak buah bekerja dengan baik maka team kerja Anda yang akan terkena imbas positifnya.


Ciao.....
Penulis : Laura Caesilia Lintong, M. Psi., Psi.

Read More »

Gaya Kepemimpinan Dalam Suatu Organisasi

0 comments
“If your actions inspire others to dream more, learn more, do more and become more, you are a leader.” John Quincy Adams

Jika berbicara mengenai leadership, ada dua konsep penting yaitu tentang mempengaruhi dan motivasi. Salah satu tantangan dalam mengelola bisnis adalah leader yang belum mempunyai sense of leadership. Kepempimpinan terdiri dari 3 aspek yaitu aspek pemimpin, aspek bawahan dan aspek situasi. Kouzer dan Posner mengatakan bahwa karakteristik utama seorang pemimpin adalah jujur. Pemimpin yang jujur diharapkan mampu membawa anak buah dan perusahaan ke arah yang lebih baik. Pemimpin yang baik juga harus mempunyai dampak kepada orang lain dan mampu berinteraksi.

Ada banyak gaya kepemimpinan yang terjadi di perusahaan. Efektivitas seorang pemimpin dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang dimilikinya. Kurt Lewin mengatakan bahwa ada 3 gaya kepemimpinan yaitu:
1.     Otokratik
Gaya kepemimpinan ini semuanya ditentukan oleh pemimpin, pemimpin adalah segalanya. Semua keputusan diambil oleh pemimpin dan anak buah tidak mempunyai hak untuk bersuara. Anak buah hanya menjalankan instruksi yang diberikan. Pola komunikasi yang terjadi adalah satu arah dari pemimpin ke anak buah. Dengan pola kepemimpinan ini, semua tugas yang diberikan pasti akan selesai karena pemimpin akan memastikan semuanya berjalan dengan baik. Pemimpin yang menggunakan gaya ini sangat task oriented sehingga besar kemungkinan ada anak buah yang tidak cocok dengan gaya kepemimpinan ini. Beberapa menilai gaya kepemimpinan ini terlalu kejam.
2.     Demokratik
Gaya kepemimpinan ini memberikan tanggung jawab dan wewenang kepada semua anggota tim. Semua terlibat aktif dalam mengambil keputusan dan boleh memberikan masukan kepada anggota maupun kepada pemimpin. Pemimpin bersikap terbuka kepada usul yang diberikan karena menganggap semua usul baik adanya untuk kemajuan perusahaan. Pemimpin merasa bahwa semua anggota pasti mempunyai kelebihan dan merupakan pribadi yang unik. Gaya kepemimpinan ini menyeimbangkan antara tugas yang diberikan harus terselesaikan dengan baik dan penting menjaga hubungan harmonis antar tim.  
3.     Laissez – Faire
Gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak kepada anak buah untuk berkreasi. Dalam hal ini, pemimpin bersifat pasif dan menunggu semuanya dari anak buah. Pola kepemimpinan yang terjadi adalah satu arah dari anak buah kepada pimpinan. Gaya kepemimpinan ini cocok diterapkan jika mempunyai anak buah dengan inisiatif yang baik. Pemimpin hanya memberikan arahan singkat berupa tujuan umum saja dan selebihnya diberikan kepada anak buah. Pembagian tugas dan kelompok juga diserahkan kepada anak buah.

Secara garis besar, perbandingan antara ketiga gaya kepemimpinan itu dapat dilihat pada bagan dibawah ini

Ketiga gaya kepemimpinan ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, seorang pemimpin yang baik harus jeli melihat karakterikstik anak buah dan situasi yang terjadi. Pemimpin memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kematangan dikembangkan. Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengembangkan anak buah dengan memberikan reinforcement berupa pujian, rekognisi dan memberikan tugas menantang. Dengan cara ini lah diharapkan mampu memberikan motivasi

Memberikan motivasi tergantung kepada kepribadian individu. Salah satu tugas dari seorang pemimpin adalah secara rutin melakukan coaching dan counseling. Hal ini sangat penting untuk dilakukan dikarenakan performance anak buah tidak selalu sesuai harapan. Seorang pemimpin harus memastikan bahwa semua anggota kelompok mengerti dan memahami visi dan misi perusahaan supaya semua anggota bergerak ke arah yang sama dan mampu mencapai tujuan organisasi.,Semua orang mempunyai potensi menjadi pemimpin yang baik dan kepemimpinan adalah kemampuan yang bisa diasah dalam tiap individu. Pengalaman, kepribadian dan role model adalah hal-hal yang mampu membentuk sense of leaderdship seseorang.  

Magna Transforma merupakan consultant management yang mampu membantu pembentukan karakter kepemimpinan di perusahaan.

Penulis : Laura Caesilia Lintong, M. Psi., Psi.



Read More »

Motivasi Kerja

0 comments
Dalam dunia bisnis dewasa ini, setiap perusahaan sudah lebih intensif melihat aspek sumber daya manusia sebagai kekuatan yang perlu dan harus dikembangkan. Ini terlihat dari banyak pernyataan bahwa karyawan adalah asset paling berharga dalam perusahaan, dan dalam pengembangan sumber daya manusia motivasi sangat berkaitan erat. Semakin karyawan termotivasi semakin tinggi produktivitasnya. Dalam psikologi, motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan mengapa orang berperilaku dengan cara tertentu. Menurut Bartol dan Martin (1998) motivasi merupakan kekuatan yang mengarahkan dan memelihara perilaku kita. Dari definisi tersebut terdapat tiga komponen penting, yang pertama adalah penggapaian.Yaitu perasaan awal yang menarik seseorang untuk menetapkan sebuah tujuan dan menggapainya. Yang kedua adalah arah, yaitu serangkaian tindakan yang diambil guna mencapai tujuan. Arah sangat dipengaruhi oleh apa yang sangat diinginkan oleh seorang individu. Dan yang ketiga adalah pemeliharaan perilaku sampai tercapainya tujuan, pemeliharaan sama dengan berapa lama seseorang bertahan dengan arahnya ketika muncul kesulitan. (Di Cesare dan Sadri, 2003).

Motivasi merupakan sebuah fenomena, ini merupakan kekuatan yang membuat seseorang bangun dari tidurnya di pagi hari. Meskipun akan ada kesamaan faktor yang membuat individu yang berbeda berperilaku dengan cara sama namun setiap individu itu unik dan berbeda dalam hal apa yang memotivasi mereka. Sebagai contoh, uang bisa jadi menjadi motivator yang dominan buat seseorang untuk pergi ke tempat kerja namun semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang pentingnya uang sebagai motivator. Selain itu, setelah motivator dominan (contohnya uang) menyatu dengan perilaku tertentu (contohnya bekerja) maka setiap individu akan berfokus pada motivator lain seperti aktualisasi diri, kondisi tempat kerja dll. Proses motivasi dipicu oleh persepsi orang tentang diri secara aktual dan diri ideal yang diharapkan. Setiap orang memiliki identitas diri yang terdiri dari kekuatan, kelemahan, perasaan, keyakinan dan kemampuan. Setiap orang juga memiliki diri yang ideal (keinginan untuk menjadi berbeda dari diri mereka sebenarnya). Perbedaan antara diri secara aktual dan diri yang ideal  dianggap sebagai kebutuhan (Rollison, 2008). Sebagai contoh perbedaan antara kemampuan individu untuk memimpin orang-orang di tempat kerja dan tingkat keterampilan yang orang lain harapkan maka ia akan berusaha (termotivasi) untuk meningkatkan keterampilannya dalam memimpin.

Para ahli teori motivasi kerja membedakan antara motivator intrinsik, motivator ekstrinsik, dan motivator sosial, namun ada ketidaksepakatan pada perbedaan ini karena salah satu motivator dapat diklasifikasikan secara berbeda tergantung pada konteks tempat kerja. Sastra mendifinisikan motivator intrinsik merupakan segala sesuatu yang berasal dari sifat pekerjaan itu sendiri, seperti kepuasan kerja, pengembangan diri, pengakuan dari manajer atau minat dalam pekerjaan. Motivator ekstrinsik adalah segala sesuatu yang berada di luar kendali individu tersebut, seperti kenaikan gaji, bonus dll. Sedangkan motivator sosial berasal dari keadaan ketika seseorang dengan orang lain memiliki tujuan yang sama sebagai satu kelompok atau tim (Bratton,2007).




Jika kita dapat memahami proses motivasi dan apa yang memotivasi karyawan maka kita dapat mempengaruhi mereka berperilaku. Tidak ada teori yang diterima secara universal tentang motivasi di tempat kerja, namun ada sejumlah teori populer yang menjelaskan apa yang memotivasi karyawan di tempat kerja, contohnya Teori Hierarki kebutuhan Maslow, Teori dua faktor Herzberg, Teori X dan Y Douglas McGregor, dll. Teori-teori tersebut dapat digunakan sebagai referensi yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan di tempat kerja atau lebih tepatnya memberikan cara untuk membuat lingkungan kerja yang nyaman sehingga karyawan termotivasi dan dapat memberikan yang terbaik untuk perusahaan.

Penulis : Budiman, S.E.

Read More »

Menumbuhkan Respect Pada Lingkungan Kerja

0 comments
Ada pepatah yang mengatakan ”Jika ingin dihargai orang lain, hargailah dirimu sendiri terlebih dahulu”. Sebagai makhluk sosial, manusia harus menghargai dirinya sendiri, orang lain, lingkungan kerja dan sekitarnya. Menghargai itu adalah sebuah sikap dimana kita menempatkan diri kita sejajar dengan orang lain. Jika kita berbicara tentang lingkungan kerja, seringkali kita lupa menumbuhkan respect (menghargai) pada rekan kerja apalagi kepada bawahan sehingga berakibat tim kerja yang tidak kompak, fitnah dan masih banyak lagi akibat negatif lainnya. Semua hal ini bisa terjadi karena kurangnya respect (menghargai) dalam diri kita sendiri.

Darimanakah muncul respect? Apakah bisa muncul secara tiba-tiba? Jawabannya pasti TIDAK!!!! Rasa respect bisa muncul dalam diri seseorang itu dikarenakan melewati proses. Seorang anak yang tumbuh dalam lingkungan yang memiliki respect (menghargai), kemungkinan besar pada saat ia bekerja akan mempunyai rasa respect (menghargai) di perusaahaan. Artinya apa? Rumah atau keluarga adalah tempat pertama yang menentukan tumbuhnya respect (menghargai).

Apapun posisi Anda di perusahaan dan dimana pun Anda bekerja, respect (menghargai) diperlukan untuk menjaga hubungan baik. Apa manfaatnya kalau kita mempunyai hubungan baik dalam bekerja? Saya akan jelaskan manfaatnya bahwa secara berkesinambungan. Manfaat utamanya adalah suasana kerja pasti terasa nyaman dan kalau sudah terasa nyaman, pasti akan mempengaruhi produktivitas kerja.

Kantor seharusnya menjadi rumah kedua, jadi kalau suasana sudah nyaman, maka Anda akan merasa ”betah” berada di kantor. Anda menghabiskan waktu lebih banyak di kantor dibandingkan di rumah, jadi coba Anda bayangkan jika Anda tidak merasa betah di kantor? Anda pun tidak akan merasa ”hitung-hitungan” untuk bekerja di kantor. Manfaat berikutnya adalah kalau Anda dilihat tidak ”hitung-hitungan” dengan kantor, ada kemungkinan Anda mendapat promosi karena Anda dilihat rajin bekerja, atau Anda mendapatkan jaringan teman atau klien yang lebih banyak.

Anda pasti sudah bisa berpikir lebih lanjut apa manfaatnya kalau mendapatkan promosi. Anda bisa mendapatkan pendapatan yang lebih besar dan jenjang karir yang lebih baik lagi. Semua ini bisa dimulai hanya dengan semudah menunjukkan rasa respect (menghargai). Lalu bagaimana kalau Anda mempunyai rekan kerja atau lingkungan kerja yang tidak menunjang, yang suasana kerjanya sangat negatif?

Anda mempunyai dua pilihan jika dihadapkan dengan masalah ini, fight atau flight. Fight maksudnya adalah Anda bisa berusaha menjadi agen pembawa perubahan dikantor dengan menjadi individu yang memang secara konsisten apa pun yang terjadi. Flight maksudnya adalah kalau Anda merasa sudah melakukan semua cara dan lingkungan kerja tetap negatif maka Anda mempunyai pilihan untuk resign dan berkarir di tempat lain.

Apa pun pilihan Anda, berikut adalah tips untuk menunjukan respect (menghargai) di lingkungan kerja

  • - Be Trusting (percaya kepada pilihan orang lain): biarkan rekan kerja kita
    memilih dan bertanggungjawab atas pilihannya.
  • - Be Fair (adil): Dengarkan cerita dari semua sisi sebelum kita menarik
    kesimpulan.
  • - Be Polite (sopan): Selalu gunakan kata Tolong dan Terimakasih.
  • - Be Reliable (dapat diandalkan): Penuhi janji, tunjukan anda benar – benar
    menganggap janji tersebut penting.
  • - Be a Good Listener (pendengar yang baik): Berikan perhatian penuh saat rekan
    kerja memerlukan bantuan kita
- Tularkanlah rasa respect (menghargai) ini di lingkungan kerja Anda secara tulus.

Respect yourself before you respect others!!!


Ciao.....
Penulis : Laura Caesilia Lintong, M. Psi., Psi.

Read More »

Modal Seorang Pemimpin

0 comments
Secara sederhana dapat kita katakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk menggerakkan orang lain. Kepemimpinan disebut seni karena kepemimpinan bersifat subyektif kualitatif. Cara memimpin, gaya memimpin, gaya berkomunikasi, karakter dan kepribadian, dsb berbeda antara seorang pemimpin dan pemimpin lainnya.
Warren Bennis mengatakan bahwa kepemimpinan adalah do the right thing, bahwa kepemimpinan adalah soal melaksanakan sesuatu dengan benar. Kebenaran yang hakiki melekat kepada kepemimpinan, kebenaran secara ilmu pengetahuan, kebenaran secara etika, keberanan secara moral, kebenaran secara hukum, kebenaran secara estetika, kebenaran secara sosial, kebenaran secara kebudayaan, kebenaran secara meyeluruh.
            Kepemimpinan merupakan hal yang mampu membangkitkan dorongan dari dalam diri seseorang untuk melaksanakan sesuatu. Secara umum menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu; pertama adalah dengan perintah (by order), yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki wewenang yang didapat dari mandat suatu organisasi yang diberikan kepadanya melalui suatu mekanisme tertentu. Melalui wewenang ini maka seseorang memiliki kuasa formal utk memerintahkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu. Cara lain menggerakkan orang adalah dengan pengaruh (by influence), yang dilakukan seseorang dengan membangun kesadaran dan keinginan dari dalam diri mereka sehingga secara suka rela seseorang mau melakukan sesuatu.
Baik melalui perintah maupun melalui pengaruh sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tabel berikut menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing cara menggerakkan orang lain.

Tabel  Kekuatan dan Kelemahan Cara Menggerakkan Orang Lain

Perintah
Pengaruh
Kekuatan
Cepat
Membutuhkan waktu lebih lama
Kelemahan
Sementara
Permanen

Dengan perintah, eksekusi yang akan dilakukan orang lain akan lebih cepat dilaksanakan, hal ini dikarenakan perintah diberikan dari seseorang yang memiliki kewenangan, dan pelaksana perintah semata-mata menjalankan perintah tersebut atas dasar tunduk kepada norma yang ada, bahwa perintah yang tidak dijalankan akan berdampak pada konsekuensi negatif terhadap dirinya. Penggunaan cara perintah dalam mengerakkan orang lain jika dilakukan oleh seorang pemimpin secara terus menerus dan dalam waktu lama akan berakibat bahwa perintah adalah satu-satunya instumen menggerakkan orang lain sehingga dampak yang timbul adalah tidak ada perintah maka tidak ada eksekusi (perintah bersifat sementara). Keberadaan secara fisik pemimpin di tempat mutlak diperlukan, karena hal intulah yang menjamin perintah akan dilaksanakan. Orang lain yang menjalankan perintah hanya akan pasif dan reaktif terhadap perintah saja. Dalam situasi kepemimpinan semacam ini hampir mustahil mengharapkan kesadaran dan kreatifitas dari tim yang dipimpin. Perintah perlu digunakan, namun perlu dikombinasikan dengan cara pengaruh, dimana dengan cara pengaruh pada dasarnya seseorang pemimpin membangun kesadaran dalam diri orang lain melalui hubungan yang positif sehingga seseorang akan melaksanakan sesuatu dalam waktu yang lama (permanen). Kehadiran pemimpin secara fisik tidak dibutuhkan, karena secara sadar dan iklas seseorang secara sukarela akan menjalankan arahan yang diinginkan oleh pemimpin. Satu-satunya kelemahan dalam menggerakkan orang lain melalui cara pengaruh adalah dibutuhkannya waktu yang lebih lama dalam membangun hubungan dan pengaruh tersebut.
            Dengan demikian kedua cara ini perlu dilakukan untuk menghasilkan resultan yang produktif, dimana cara perintah kita butuhkan untuk mendapatkan eksekusi yang cepat dan cara pengaruh kita butuhkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan terjadi dalam jangka panjang (permanen). Seperti layaknya bermain layang-layang, kita tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur, sehingga layang-lanyang akan terbang tinggi di udara. Kemampuan untuk tahu kapan harus memberi perintah dan kapan harus membangun relasi untuk mendapat kan pengaruh adalah suatu seni. Maka kepemimpinan dikategorikan sebagai seni (memerintah dan mempengaruhi) orang lain untuk melaksanakan apa yang kita inginkan. Kepemimpinan disebut seni karena kepemimpinan bersifat subyektif kualitatif. Cara memimpin, gaya memimpin, gaya berkomunikasi, karakter dan kepribadian, dsb berbeda antara seorang pemimpin dan pemimpin lainnya.
         Apa yang menjadi modal dasar seorang pemimpin untuk mampu menggerakkan orang lain? Dari survey yang dilakukan oleh Kouzes & Posner, ternyata modal seorang pemimpin bukan karena kemampuan strategi, atau kemampuan komunikasi, atau kemampuan teknis lainnya.  Modal dasar dari kepemimpinan adalah hati yang tulus (honesty)


Tabel  Hasil Survey atas Karakteristik Pemimpin Ideal
Sumber: Kouzes & Posner, 2002


Penulis : DR. Martinus Tukiran, ST.,MT.

Read More »